KATA BIJAK HARI INI

04 June 2008

Dokter Sebagai Sosok Profesional-Cendekia,

“Selamat datang di komunitas Manusia Setengah Dewa!”. Ini adalah sebuah pernyataan yang pernah di gunakan dalam sambutan pembukaan acara pengkaderan mahasiswa Fakultas Kedokteran UNHAS. Tidak bisa dipungkiri, pernyataan ini membuat mahasiswa baru yang mendengarnya kemudian dihinggapi rasa bangga yang sangat besar mengingat akan menjadi seperti apa mereka nantinya. Akan tetapi, seperti itukah keadaan yang sebenarnya dari komunitas dokter saat ini?
Membahas mengenai peran dokter, ada baiknya untuk melihat bagaimana sejarah lahirnya dokter. Tidak bisa dipungkiri bahwa pada awal peradaban dimulai, semua kejadian dikaitkan dengan fenomena spiritual dan dikaitkan dengan dewa-dewa. Inipun terjadi di masa Yunani kuno yang merupakan tempat lahirnya kedokteran barat yang kita kenal saat ini. Mereka mempercayai adanya dewi yang merawat dan menyembuhkan penyakit, yaitu dewi Hygea dan Panakeia yang merupakan putri dewa kesehatan, dewa Aesclepius. Para pendeta kuil menjadi orang-orang yang dianggap perantara dan bertugas menangani kesehatan semua orang. Hingga pada suatu saat ada orang-orang yang menyebut diri mereka Asclepiad (putra Asclepius) yang membantu menyembuhkan orang-orang sakit. Asclepiad ini merupakan cikal bakal dari dokter-dokter masa kini. Asclepiad membentuk serikat kerja medis yang mendorong lahirnya suatu bentuk ilmu kedokteran yang didasarkan atas pengetahuan empiris. Salah seorang Asclepiad yang sangat terkenal dan dianggap sebagai peletak dasar ilmu kedokteran modern yaitu Hippocrates, bahkan dianggap sebagai bapak kedokteran.



Berdasarkan sejarah kedokteran barat tersebut, didapatkan bahwa sejak dulu dokter memiliki peran untuk menyembuhkan individu-individu yang sakit melalui pendekatan empiris bahwa seseorang sakit dikarenakan faktor alamiah komponen tubuh. Hal ini menciptakan parameter dokter yang hebat dan berhasil adalah dokter yang spesialistis dan mengetahui segala hal mengenai komponen-komponen pembentuk tubuh.
Meskipun demikian, perlu diingat bahwa sejak dulu di dunia timur pun ada orang-orang yang mendedikasikan hidup mereka untuk menjaga kesehatan orang lain. Akan tetapi, paradigma yang digunakan berbeda dengan ilmu kedokteran barat. Di dunia timur yang diwakili oleh kedokteran Cina klasik, berakar pada tradisi-tradisi shamanistik dan dibentuk oleh Taoisme dan Confusionisme, dua aliran filsafat utama zaman klasik. Taoisme sangat menekankan cara berpikir korelatif dan dinamis. Individu yang sehat merupakan bagian integral dari tatanan besar yang terpola, dan penyakit merupakan ketidakserasian pada tingkat individual dan sosial. Begitupula dengan pandangan Confusionisme, dimana sistemnya hanya berkaitan dengan pemeliharaan tatanan sosial. Menurut pandangan Confusionisme, penyakit dapat muncul dari penyesuaian yang tidak memadai pada aturan-aturan dan adat kebiasaan masyarakat, dan satu-satunya cara bagi individu untuk sembuh adalah mengubah dirinya untuk menyesuaikan dengan tatanan sosial yang ada. Berdasarkan paradigma ini, dokter yang hebat adalah yang bijaksana dalam memperbaiki sinergisitas seorang individu dalam tatanan sosial maupun alam. Sikap ini telah mendarah daging dalam kebudayaan Asia Timur hingga kini, dan masih mendasari terapi medis modern baik di Cina maupun Jepang.
Apapun paradigma yang digunakan, baik itu paradigma barat ataupun timur, walaupun menggunakan pendekatan yang berbeda, semuanya bertujuan untuk menciptakan kesehatan bagi individu. Namun, akan sangat bijaksana bila dapat menggunakaan kedua paradigma ini agar dapat saling melengkapi mengingat bahwa seorang manusia sangatlah kompleks. Melihat kesehatan individu harus secara holistik tidak partikulir. Manusia selain memiliki fisik, dia juga memiliki mental dan niscaya berperan sebagai makhluk sosial.

Seorang dokter secara profesional haruslah berperan dalam mewujudkan kesehatan dalam arti sesungguhnya yaitu bukan hanya membebaskan orang dari penyakit akan tetapi membuat seseorang berada dalam keadaan sejahtera baik secara fisik, mental, dan sosial, yang memungkinkan dia untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Selain peran profesi, dokter sebagai sosok cendekia harus menunjukkan peran intelektualitasnya. Mereka bukan hanya menjadi agen pengobatan (agent of treatment), tetapi juga menjadi pelaku pengubah (agent of change), dan pelaku signifikan dalam pembangunan (agent of development).
Sejarah kebangkitan bangsa Indonesia mencatat nama para dokter yang mampu menjalankan peran-perannya tersebut. Fakta sejarah membuktikan bahwa pada proses pembentukan negara Indonesia, figur-figur dokterlah yang membangun fondasi dengan semangat nasionalisme dan kesadaran berbangsa. Ini sangat erat kaitannya dengan proses pendidikan dan sumpah serta etika yang harus dipatuhinya sebagai seorang dokter.
Dokter dituntut menjadi figur yang dalam pengabdiannya, tidak mengenal agama, suku, ras, ataupun politik kepartaian. Artinya, kehidupan sehari-harinya sarat dengan nilai kesetaraan. Inilah yang membuat mereka saat itu merasakan ketertindasan akibat para penjajah yang membuat tumbuhnya rasa kebangsaan yang berujung pada semangat nasionalisme.
Tidak mengherankan bila pada periode 1908, dokterlah yang menjadi kelompok pertama yang memiliki semangat nasionalisme. Inilah yang menjadi dasar timbulnya semangat kebangkitan nasional. Saat itu, Dr. Wahidin Sudirohusodo (penggagas berdirinya Budi Utomo) merasa perlu adanya organisasi yang bisa memajukan pendidikan dan mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia.
Akhirnya pada tanggal 20 Mei 1908, gagasan ini berhasil diwujudkan oleh mahasiswa kedokteran, yaitu Sutomo dan teman-teman mitra profesi lainnya. Organisasi yang dibentuk ini bernama Budi Utomo, dan hari tersebut akhirnya ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional karena pembentukan organisasi ini menandai awal kebangkitan bangsa yang bertujuan untuk mencapai kehidupan berbangsa yang terhormat.
Peran dokter sebagai sosok cendekia tidak berakhir hanya sampai disitu, tetapi tetap berlanjut baik pada masa kependudukan tentara Jepang, fase perang kemerdekaan, dan masa mempertahankan kemerdekaan.
Sebuah kenangan yang indah melihat sejarah perjuangan bangsa yang diwarnai oleh peran para dokter dalam konteks kebangsaan. Namun sangat disayangkan apabila bercermin pada kondisi riil saat ini, dimana banyak dokter yang tidak menangkap spirit ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini hal yang melekat pada profesi kedokteran adalah kemewahan hidup. Pandangan dunia Materisalisme telah merasuk dalam bidang profesi ini. Kebanyakan dokter yang ada telah menjadi kaum kapitalis yang memperdagangkan jasa demi keuntungan pribadi semata. Jangankan berbicara tentang bangsa, melihat ketimpangan sosial disekitarnya saja sangat susah.
Selain karena atmosfir kehidupan yang secara global memang diwarnai dengan kapitalisme, ini diperparah dengan masuknya budaya kapitalisme tersebut ke dalam ruang-ruang pendidikan. Padahal pendidikan merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter. Oleh karena itu, untuk kembali memunculkan karakter dokter yang ideal, diperlukan sebuah sistem pendidikan yang jauh dari kapitalisme dan bisa mendekatkan mahasiswanya dengan rakyat jelata seperti yang dilakukan para dokter masa lalu sehingga mereka bisa peka dan mengerti tentang penderitaan rakyat banyak.
Pelajaran yang berharga bisa diambil dari sejarah kelam bangsa Jepang saat terjadinya pemboman Hiroshima dan Nagashaki, dimana saat terjadi pemboman tersebut, pertanyaan pertama yang diajukan Kaisar Jepang bukan tentang berapa kerusakan gedung, kerugian materil, ataupun kerusakan peralatan tempur, melainkan berapa jumlah guru yang selamat. Ini membuktikan perhatiannya yang sangat besar terhadap pendidikan dan akhirnya terbuktikan bahwa dengan singkat Jepang bisa kembali bersaing dengan negara-negara maju lainnya.
Oleh karena itu, untuk memaksimalkan peran dokter dalam memajukan bangsa ini, diperlukan pembentukan karakter dokter yang kuat, dimana mereka dididik bukan hanya menjadi sosok profesional tetapi juga menjadi sosok cendikia dengan tidak melupakan sejarah kepahlawanan para dokter masa lalu, dimana spirit mereka harus tetap bisa dimiliki oleh dokter-dokter masa sekarang sehingga peran dokter untuk kemajuan bangsa bukan hanya menjadi kenangan atau harapan tetapi dapat terejawantahkan dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air.


1 comment:

Unknown said...

Kapan Indonesia mau maju anggaran pendidikan aja sedikit. Sebaiknya pemerintah itu lebih perhatian kepada pendidikan. Karena pendidikan adalah modal kebangkitan bangsa.
oiya pasang widget infogue.com. Bisa nambah pengunjung lho.
kayak diblog gue
http://pendidikan.infogue.com/dokter_sebagai_sosok_profesional_cendekia_