Perempuan seringkali menjadi bahan pembicaraan yang menarik, sekaligus pembicara yang aktif. Dan kali ini, saya akan menggabungkan keduanya: Berbicara tentang perempuan sebagai seorang perempuan. Bukan sebagai wanita kosmopolis, gadis konvensional yang lugu, ataupun seorang feminis. Saya tidak suka istilah-istilah tersebut, karena di dalamnya telah terjadi reduksi nilai-nilai secara besar-besaran yang akhirnya membuat mereka menjadi tidak berarti sama sekali.
Lalu apakah pengertian perempuan? Bagi saya, perempuan adalah manusia yang terlahir dengan ciri-ciri fisik tertentu, yang berpengaruh pada perilaku gender-nya, dan memiliki kekuatan tak terbatas dalam jiwanya. Saya tidak mengatakan bahwa perempuan adalah pemilik gender feminin karena perempuan mempunyai wewenang untuk menjadi seorang androgyny. Saya juga tidak mengatakan bahwa perempuan adalah “lawan” atau “kebalikan” dari laki-laki karena kedua jenis kelamin mempunyai hubungan komplementer. Dan mengapa saya menyinggung tentang kekuatan jiwa? Tentunya bukan karena saya sedang belajar psikologi – yang sarjananya dianggap sebagai pecundang entah sejak kapan – tapi karena saya telah menyaksikan sendiri banyak perempuan yang mampu menaklukkan berbagai rintangan dengan kekuatan jiwanya. Bukankah sejarah telah membuktikan bahwa perempuan selalu mengalami banyak masalah menyangkut keberadaannya?
Seorang perempuan yang cukup konvensional pernah berkata pada saya, “Perempuan itu seperti uang kertas, sedangkan laki-laki adalah uang logam. Ia tidak boleh sobek sedikitpun, karena tidak akan ada yang mau menerimanya bila ia tidak lagi utuh.” Perkataan itu didapatkannya secara turun menurun dari nenek dan ibunya. Sebuah wejangan khas tentang sakralnya kesucian tubuh seorang perempuan. Hal tersebut merupakan suatu masalah unik yang dihadapi perempuan Indonesia dari zaman ke zaman. Sebagai “penganut nilai-nilai Timur”, anak-anak gadis akan mendapat ceramah dari ibunya mengenai keperawanan di masa akil baliq. Dan sebagai calon istri, ditanamkan pula soal bagaimana harus menghormati suami dalam aturan-aturan yang “seharusnya”. Perempuan bahkan seringkali dikenakan kewajiban tentang bagaimana berperilaku “sesuai kodratnya”; melahirkan, bertanggung jawab atas anak-anaknya, dan mengurus rumah tangga. Fenomena seperti ini memang bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi sebagai bangsa dengan budaya-budaya yang unik, perempuan Indonesia memiliki ceritanya sendiri.
Budaya feodalisme telah menjadikan perempuan sebagai obyek belaka. Banyak kewajiban dan sedikit hak. Selama berabad-abad, sebagian besar perempuan Indonesia – terutama mereka yang terikat pada budaya Jawa – telah kehilangan hak bicara di depan laki-laki. Walaupun perempuan Jawa zaman sekarang sudah tidak dilarang mengenyam pendidikan, di dalam kedudukan sosial, mereka tetap dinomorduakan. Apabila kita memperhatikan kesenian-kesenian daerah, terutama seni tari, di Indonesia, tentu “peran” perempuan sebagai obyek seks akan jelas terlihat. Sebagai contoh, tari Cokek dalam kebudayaan Betawi dan tari Jaipongan dalam kebudayaan Sunda. Keduanya secara gamblang “menjual” keindahan dan daya rangsang tubuh perempuan. Contoh tersebut tentu bukanlah suatu kebetulan dalam sebuah kebudayaan. Kebudayaan mencerminkan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakatnya. Sebagai perbandingan, perhatikanlah tarian balet yang merupakan kebudayaan Rusia. Dengan memakai kostum yang memperlihatkan sebagian besar bagian tubuh, tidak ditemukan kesan “menjual” perempuan. Juga pada tarian kontemporer yang berkembang di negara-negara Barat, gerakan-gerakan yang libidinal tidak menjadikan perempuan yang menari sebagai simbol seks semata. Mungkin Putri Malam yang sedang tenar dengan goyangannya di layar kaca setiap Sabtu malam juga merupakan manifestasi dari cara budaya memperlakukan perempuan.
Kemudian bagaimana dengan agama? Sebagai salah satu pegangan norma yang masih kental di masyarakat Indonesia, tentunya agama sangat berpengaruh terhadap kedudukan perempuan. Menurut Anne Marie Schimmel (1), dalam Islam, sebagaimana juga dalam setiap agama, unity, yang kemudian mewujud dalam dualitas, dan selanjutnya pluralitas, adalah prinsip sentral. Karena itu, bagaimana mungkin sisi feminin dan maskulin, lelaki dan perempuan, dalam kehidupan tidak dilihat sebagai sama pentingnya? Namun Schimmel juga menuliskan bahwa golongan feminisme telah kehilangan kepercayaannya pada agama, yang terbukti dalam sejarahnya, cenderung mensubordinasikan dan menindas perempuan. Padahal, sejarah juga menunjukkan bahwa perempuan selalu menjadi sahabat terbaik bagi agama, tetapi agama, terutama dalam prakteknya, justru sangat tidak bersahabat terhadap perempuan.
Berbicara soal agama rasanya memang tidak adil apabila mengidentikkannya dengan ajaran-ajaran agama itu sendiri. Karena apa yang diterima masyarakat, terutama perempuan, adalah apa yang terjadi dalam penerapannya, dan bukannya apa yang menjadi kondisi ideal seperti yang dituliskan dalam kitab-kitab suci. Saya pikir tidak perlu lagi alasan klise seperti, “Yang salah manusianya, manusia tidak mengerti apa inti dari agama” atau hal-hal serupa. Lebih baik kita bersikap realistis dalam menghadapi persoalan perempuan dalam agama. Dalam realitas kehidupan beragama, perempuan tetap menjadi subordinat dari laki-laki. Agama tertentu membolehkan poligami sehingga pada kenyataannya telah “melegalkan” perempuan, lagi-lagi, sebagai obyek seks. Umat beragama yang percaya pada penciptaan Adam dan Hawa, cenderung menyalahkan Hawa sehingga mereka berdua terlempar ke bumi. Mengapa harus Hawa yang “dikabarkan” menggoda Adam untuk memakan buah terlarang?
Membahas hal-hal seperti budaya, adat dan agama, yang bagi banyak orang merupakan hal absolut, adalah suatu upaya penting dalam menarik akar dari persoalan mengenai perempuan. Melihat dari kenyataan yang ada, perempuan hampir tidak pernah dipandang sebagai subyek; sebagai manusia yang utuh. Perempuan dalam tubuhnya adalah obyek yang tercipta untuk dinikmati dan melakukan serangkaian kewajiban. Adanya nilai-nilai sakral tentang kesucian tubuh sebelum menikah telah mereduksi perempuan menjadi hanya tinggal tubuh dengan permatanya berupa selaput dara. Tidak ada penekanan pada alasan logis seperti masalah konsekuensi perbuatan dan keberanian bertanggung jawab, yang ada hanya “kesucian”. Adanya hukum perzinahan yang akhirnya membatasi persetubuhan dengan “surat nikah” telah menjadikan pandangan yang sangat menyedihkan di dalam masyarakat tentang arti sebuah perkawinan. Perempuan-perempuan yang dididik seperti ini tentu tidak akan mengerti tentang spiritualitas seks yang melebihi arti tubuh itu sendiri. Bukankah tubuh menjadi berarti ketika ia menjadi media bagi spiritualitas? Tubuh dan jiwa tidak dapat dipisahkan begitu saja. Dan sebagian besar perempuan Indonesia masih berpendapat demikian, juga dalam dunia modern yang marak dengan gerakan feminisme.
Seperti yang telah saya sebutkan di atas, saya tidak suka menggunakan istilah feminisme. Gerakan ini seringkali dipicu oleh dendam yang membara pada laki-laki sebagai pihak yang dianggap menindas perempuan. Pada akhirnya ada suatu penilaian yang sama sekali salah tentang persamaan hak antara laki-laki dan perempuan; tentang anak dan keluarga, karier, serta peran perempuan di dunia sosial. Kapitalisme di Amerika telah melahirkan konsep “wanita kosmopolis” yang mengeksploitasi “potensi” perempuan. Wanita kosmopolitan harus menyenangkan dan tidak gentar terhadap apapun. Majalah-majalah wanita kosmopolitan menyuguhkan bagaimana cara berpakaian yang tepat dan sedang in, bagaimana mengunakan sex appeal di kantor sebagai anak tangga menuju karier yang sukses, bagaimana cara membuat perempuan menjadi bintang pesta, berkepribadian, percaya diri, dan tentu saja, hebat di tempat tidur. Wanita kosmopolitan tidak memasak dan mengurus popok bayi, wanita kosmopolitan tidak takut lajang [siapa butuh lelaki?], dan wanita kosmopolitan harus mampu bertahan seorang diri dalam dunia global. Bagi saya ini salah satu bias dari feminisme yang kita kenal dewasa ini. Bukankah ini hanya mengasah sedikit bagian otak ini dan otak itu tanpa memperhitungkan kekuatan jiwa yang sebenarnya? Bukankah ini juga merupakan salah satu manifestasi dari dipandangnya perempuan sebagai obyek? Bukankah wanita-wanita kosmopolitan ini juga memisahkan pengertian antara tubuh dan jiwa? Lalu apa bedanya dengan para perempuan konvensional? Bukankah mereka sama-sama terikat walaupun dalam topeng yang berlainan?
Bisa dikatakan saat ini ada dikotomi yang terlihat. Untuk lebih jelasnya, saya akan menyajikan sebuah contoh, yaitu ada perawan sholeh yang mati-matian menjaga auratnya dari pandangan laki-laki, dan ada pula cewek-cewek modis yang pergi ke Plasa Senayan hanya untuk mejeng dan ngerumpi di sekeliling lingkaran di dekat lift. Tapi saya dapat menarik persamaan dari keduanya: Sama-sama bodoh. Sama-sama hidup tanpa sebuah makna yang berharga.
Mungkin saya akan menggunakan istilah post-feminisme. Pada masa ini, sudah bukan saatnya kita hanya menggali-gali “hutang” lelaki pada perempuan yang telah terjadi selama berabad-abad. Cobalah berpikir, apa yang akan terjadi pada perempuan Indonesia beberapa tahun ke depan? Di satu sisi, perempuan masih terikat pada norma-norma yang mengikutsertakan kodrat sebagai patokan. Sedangkan di sisi lain, perempuan Indonesia mulai tergiur oleh konsep kosmopolitan yang mengutamakan kebebasan. Menurut pendapat saya, sebagian besar perempuan Indonesia patut dikasihani. Terutama berkaitan dengan konsep diri (2). Karena begitu banyak nilai-nilai yang harus dipegang, maka mereka kehilangan diri mereka sendiri. Mereka tidak berani memaknai hidup mereka dengan nilai-nilai sendiri yang telah diolah dengan matang. Mereka hanya mengadopsi nilai-nilai “dikenakan” pada diri mereka oleh masyarakat. Dan akhirnya yang ada hanyalah konsep nilai umum, bukan konsep diri. Hal ini cenderung “menyamaratakan” identitas perempuan Indonesia yang dapat dibilang naif.
Terbiasa dengan suapan-suapan nilai sejak kecil menjadikan mereka terpenjara. Dan apabila hal itu telah terakumulasi, rasa ingin bebas akan sangat menggebu-gebu. Tetapi karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk menciptakan ataupun mengolah nilai, maka mereka akan merasa memperoleh kebebasan ketika mengambil nilai-nilai yang bertentangan dengan yang mereka kenal. Misalnya, perempuan yang sangat patuh pada adat dan agama bisa jadi berubah menjadi wanita modern dengan nilai-nilai Barat. Baginya, itu merupakan suatu kebebasan, padahal ia hanya pindah penjara. Atau karena terbiasa dengan dominasi laki-laki di keluarga dan lingkungannya, ketika dewasa seorang perempuan tidak mau menikah dengan alasan tidak mau tunduk pada laki-laki. Padahal, bila saja ia menyadari, dengan hubungan yang matang, laki-laki dan perempuan bisa saling membangun dan mengasihi dalam menciptakan hidup yang lebih baik.
Post-feminisme, dimana laki-laki dan perempuan bisa menyadari dan mengatur sendiri perannya dengan nilai-nilai yang mereka ciptakan sendiri, atau dengan sekedar mengolah dengan baik filosofi dari nilai-nilai yang sudah ada, harus melibatkan berbagai pihak. Budaya maupun agama tidak boleh mengekang perempuan untuk mandiri secara nilai. Perempuan harus belajar untuk menentukan pilihan dan bertanggung jawab atas pilihannya tersebut. Perempuan harus mengenal konsekuensi dan resiko, bukan hanya hasil akhir. Apabila perempuan bisa mencapai keadaan seperti itu, tentu hal-hal yang meresahkan bagi mereka seperti kekerasan, pelecehan dan penindasan bukan lagi hal yang sulit diatasi. Tentu kolom konsultasi psikologi tidak akan dipenuhi pertanyaan-pertanyaan menggemaskan seperti yang sering kita jumpai; tentang bagaimana mengatasi suami yang cuek atau kasar, mengatasi mertua, atau pihak ketiga.
LSM yang menangani masalah perempuan ataupun para feminis hendaknya tidak hanya berpikir tentang bagaimana cara mengalahkan laki-laki, tapi bangun dulu secara perlahan-lahan kepercayaan seorang perempuan akan kekuatan yang dimiliki jiwanya. Apabila selama beribu-ribu tahun perempuan bisa bertahan dalam ketidakadilan, mengapa kita tidak bisa melangkah pada keadaan yang lebih baik? Perempuan Indonesia masih memiliki kecenderungan terbuai di dalam “nomor dua”, sehingga kekuatan yang selalu digunakan dalam menghadapi masalah kemudian malah berakhir dengan keluhan-keluhan, yang kemudian diturunkan pada anak cucu. Dan akhirnya menimbulkan dendam. Hal ini terus berputar membentuk suatu lingkaran. Alangkah baiknya bila kekuatan yang dimiliki perempuan digunakan untuk berusaha keluar dari lingkaran itu. Tidak ada ruginya berpikir lebih jauh untuk jangka panjang.
Teman dekat saya, seorang laki-laki, berpendapat bahwa selama ini sejarah telah membuktikan bahwa laki-laki bisa “menang” dan mendapatkan hegemoni atas perempuan dalam kehidupan sosial adalah karena kemampuan public relations-nya. Mereka mampu “menjual” nilai tentang “perempuan idaman”, di antaranya yang masih utuh dengan selaput dara, dan mengabdikan diri sepenuhnya untuk suaminya. Saya pikir hal ini merupakan base yang baik untuk mencari jalan keluar bagi ketidakadilan yang sering dirasakan perempuan; apabila para perempuan bisa mandiri dalam berpikir, tentu tidak akan sulit untuk menghapuskan nilai-nilai patriarki yang sewenang-wenang.
Misalnya, mengingat bahwa hidup yang lengkap menurut saya harus mencakup sisi fisik, mental, emosional dan spiritual, maka perempuan juga harus berusaha untuk mengembangkan keempat dimensi tersebut. Kecenderungan yang terjadi pada perempuan, yang mungkin juga disebabkan oleh kelihaian laki-laki dalam menjual nilai, adalah pengembangan yang berpusat hanya pada sisi fisik dan emosional. Sedangkan sisi mental dan spiritual sendiri terabaikan. Padahal tidak mustahil bagi perempuan untuk mengembangkan kemampuan kognitifnya sehingga “kecerdasan” tidak lagi menjadi hal aneh yang seakan-akan terpisahkan dari fisik yang aduhai. Kemudian dari sisi spiritualitas, alangkah baiknya bila perempuan juga mampu menemukan dan mengasah “ke-iman-an” yang bukan termanifestasi dalam dogma-dogma yang telah berakar dan kemudian ditelan mentah-mentah.
Dengan demikian, kekuatan jiwa yang dimiliki perempuan, tidak lagi merupakan sebuah potensi belaka. Tetapi hal tersebut dapat disadari dan dikembangkan secara nyata untuk memperoleh hidup yang bermakna. Dan kemudian, mungkin giliran laki-laki yang mengasah kekuatan jiwa. Dengan bantuan perempuan, tentunya.
Dalam bentuk sederhana, kita dapat mengatakan bahwa, secara psikologis, “kekuatan” perempuan bisa digali dan dimanfaatkan untuk menyeimbangkan kelabilan emosional dan “pendewaan tubuh” yang seringkali menyertai mereka. Perempuan juga bisa melindungi, bahkan melindungi laki-laki. Perempuan bisa berpikir rasional sekaligus menyertakan keindahan di dalamnya. Alam melahirkan perempuan dan laki-laki untuk saling melengkapi. Dan keduanya memiliki keunggulan dan kelemahan. Sekarang tinggal bagaimana cara memiliki kemampuan untuk mengaturnya; secara holistik.
Hari Kartini yang biasanya dijadikan momentum untuk menyoroti perempuan mungkin sudah lewat. Tetapi saya rasa tidak ada kata terlambat untuk berkata, “Selamat Berjuang Untuk Menjadi Manusia yang Utuh.”
Sekian bulan yang lalu,
Intan Suwandi
Baca Selengkapnya..
KATA BIJAK HARI INI
|
The manners of women are the surest criterion by which to determine whether a republican government is practicable in a nation or not.
John Quincy Adams (1767-1848) |
Quote of the Day
provided by The Free Library
Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts
09 June 2007
HERU K WIBAWA: SAYA DAN KEPRIBADIAN
Satu hal yang akan mempermudah mengenali siapapun adalah dengan melihat kepribadiannya. Kepribadian sering dipahami sebagai suatu pola pikir, perasaan dan perilaku yang telah berakar dan bersifat tetap. Ia merupakan keseluruhan pola yang menyangkut kemampuan, perbuatan dan kebiasaan baik secara jasmani, rohani, emosional maupun sosial. Pola ini telah terbentuk secara khas yang ditata dari dalam serta dibawah pengaruh lingkungan. Pola ini akan muncul dalam kebiasaan perilaku dan yang akan dipertahankan serta menjadi identitasnya dalam usahanya menjadi manusia sebagaimana yang dikehendakinya. Melalui kepribadian seseorang dapat diperkirakan tindakan ataupun reaksinya terhadap situasi yang berbeda-beda.
Satu teori kepribadian yang sangat berpengaruh adalah teori psychoanalytic dari Sigmund Freud. Ia meyakini bahwa proses bawah sadar menuntun bagian besar dari perilaku seseorang. Meskipun orang sering tidak menyadari dorongan dan arahan itu tetapi alam bawah sadar akan tetap mendorong dan mengendalikannya.
Teori kepribadian lain yang juga sangat berpengaruh adalah teori yang diturunkan dari behaviourism. Cara pandang ini disampaikan oleh pemikir-pemikir barat baik Eropa maupun Amerika dengan salah satu tokohnya B.F. Skinner, yang menempatkan tekanan utama pada learning (pembelajaran). Skinner melihat bahwa perilaku ditentukan terutama oleh konsekuensi-konsekuensi yang terjadi. Apabila dihargai, maka suatu kebiasaan perilaku akan selalu muncul sebaliknya apabila tertekan oleh hukuman suatu perilaku tidak akan kembali.
Dua teori inilah yang akan secara khusus dipakai dalam memahami kepribadian sebagai sarana untuk lebih mengenalinya baik proses pembentukannya maupun perkembangannya dan bagaimana kita mengendalikan perubahan yang memungkinkan kearah yang lebih baik.
Bagaimana psikoanalis menerangkan kepribadian.
Kepribadian muncul melalui aktivitas, tingkah laku, perbuatan dan ekspresi. Pada awalnya, Sigmund Freud (1856 - 1939 ) menyatakan bahwa kehidupan psikis manusia dipengaruhi oleh dua sistem yaitu sistem sadar-pra sadar dan sistem tak sadar. Sehingga oleh Freud jiwa manusia digambarkan seperti gunung es, dimana hal-hal yang nampak hanyalah 10 persen saja, berupa alam sadar, sedangkan 90 persen yang tidak nampak adalah alam bawah sadar. Sehingga alam bawah sadar merupakan sumber energi psikis yang lebih besar yang potensi menimbulkan konflik batin.
Dalam perkembangan pemikiran selanjutnya Freud tidak lagi membagi hidup psikis seseorang menjadi dua tetapi tiga sistem yaitu Id, Ego dan Superego. Sistem Id merupakan sumber energi psikis yang berasal dari instink-instink biologis manusia yang merupakan naluri bawaan, antara lain instink seksual, instink agresivitas, juga keinginan-keinginan terpendam lainnya. Menurut teori Freud, hidup psikis bayi sebelum dan baru dilahirkan hanya memiliki Id saja, sehingga Id merupakan dasar dan sumber pembentukan hidup psikis manusia selanjutnya. Id mewakili segi-segi kehidupan instinktual, primitif dan irasional yang sering muncul menjadi 'menara' dari dorongan-dorongan yang tidak disadari. Secara mudah Id dapat kita amati dalam aktivitas anak-anak pada awal tahap kehidupannya.
Sedangkan yang dimaksudkan pengertian Ego dalam hal ini bukanlah pengertian ego dalam psikologi yang berarti "Aku", tetapi Freud memahaminya sebagai bentukan deferensiasi dari Id karena kontaknya dengan dunia luar. Aktivitas ego bersifat sadar, pra-sadar dan tidak sadar. Aktivitas sadar, misalnya terlihat dalam proses-proses intelektual, persepsi lahiriah dan persepsi batiniah. Aktivitas tak sadar dilakukan pada mekanisme-mekanisme pertahanan, dan aktivitas pra-sadar terlihat pada fungsi ingatan.
Sistem Ego memiliki ciri khas bahwa ia seluruhnya dikuasai oleh realitas. Tugas yang diembannya adalah mempertahankan kepribadiannya yang telah dimiliki dan mengadakan penyesuaian dengan lingkungan, serta perperan menyelesaikan konflik-konflik dengan realitas dan konflik-konflik yang tidak cocok satu sama lain. Ego juga mengontrol apa yang akan muncul dalam kesadaran dan apa yang akan dikerjakan. Sehingga Ego-lah yang bertanggungjawab menjamin keutuhan kepribadian.
Secara umum Ego bertanggungjawab merencanakan, memecahkan masalah, dan menciptakan teknik-teknik untuk menguasai realitas disekitarnya, karena Ego diperlengkapi dengan kemampuan mengendalikan impuls-impuls manusia dari ekspresi hiperaktif dan dorongan agresivitas. Sehingga Egolah yang harus mengendalikan Id untuk menjamin kelancaran interaksi individu dengan realitas atau dunia sekitarnya.
Sedangkan sistem yang ketiga, Superego menurut Freud dibentuk dengan jalan internalisasi, sehingga setiap orang akan membentuk Superego. Sebagai contoh sederhana, pada awalnya seorang anak menerima perintah dan larangan dari orang tuanya pada suatu hal. Pada awalnya anak ini hanya menuruti dan memperhatikan larangan dan perintahnya saja, dengan akibat memperoleh penghargaan atau hukuman.
Ketaatannya ditentukan oleh ada tidaknya pengawasan, tetapi kemudian terjadi proses internalisasi, yaitu ketika ketaatan itu muncul dari dirinya sendiri tanpa kehadiran sipapun disekitarnya. Saat itulah muncul 'orang tua batin' pada diri anak yang akan terus-menerus mengawasinya. 'Orang tua batin' ini akan selalu ada dalam dirinya dan akan menghukum maupun memuji dirinya terhadap suatu tindakan yang dilakukan. Freud menemukan bahwa Superego adalah merupakan sumber berbagai gangguan kejiwaan.
Dalam proses perkembangan seorang manusia maka konflik akan selalu terjadi antara Id dan Superego, sedangkan Ego selalu berada diantaranya. Ketiga Ego secara spontan didorong Id memenuhi keinginan-keinginannya, maka superego akan menegur apabila pemenuhan dorongan itu tidak tepat, bahkan akan menuduh setiap dorongan yang arahnya kurang tepat. Ego yang akan menerima siksaan dari Superego terhadap suatu dorongan dari Id yang tidak baik dan apabila kekuatan Superego lebih besar, Ego bukan saja tidak melakukannya tetapi akan menutup dan menggesernya serta menyembunyikan dorongan tadi. Konflik akan selalu muncul dari intink-instink yang tidak terekendali dari Id dengan larangan-larangan moralis dari Superego.
Apabila Superego dominan maka seseorang akan mengembangkan sikap bersalah, penuh dosa yang akan nampak dalam perilakunya yang moralis, alim dan saleh. Sehingga segala sesuatunya diukur dengan hukum-hukum moralitas, sehingga akan terus berkembang rasa berdosa atau bersalah pada dirinya. Sedangkan dominasi Id akan membentuk seseorang menjadi narsistis, egois, individualistis yang hanya akan mementingkan dirinya tanpa melihat kepentingan orang lain.
Dalam keadaan Id superior dengan Ego dan Superego lemah, maka dorongan-dorongan instink biologis itu tidak terkendali akan membentuk orang menjadi seseorang yang egosentris dan selalu memaksakan kehendak atau keinginannya sendiri. Sikapnya menjadi sewenang-wenang, yang diketahuinya hanyalah bagaimana mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dengan tidak segan-segan merugikan orang lain. Sikap anti-sosial ini juga disebabkan ketiadaan nilai-nilai moral dalam memenuhi keinginannya untuk memperoleh kesenangan-kesenangan pribadi.
Ego akan berhadapan dengan kecondongan-kecondongan spontan dari lapisan Id dan dari tuntutan-tuntutan Superego. Ego harus mengambil sikap, dan apabila seseorang memiliki Ego lemah, ia akan memenuhi setiap keinginan-keinginan spontan.
Baca Selengkapnya..
Satu teori kepribadian yang sangat berpengaruh adalah teori psychoanalytic dari Sigmund Freud. Ia meyakini bahwa proses bawah sadar menuntun bagian besar dari perilaku seseorang. Meskipun orang sering tidak menyadari dorongan dan arahan itu tetapi alam bawah sadar akan tetap mendorong dan mengendalikannya.
Teori kepribadian lain yang juga sangat berpengaruh adalah teori yang diturunkan dari behaviourism. Cara pandang ini disampaikan oleh pemikir-pemikir barat baik Eropa maupun Amerika dengan salah satu tokohnya B.F. Skinner, yang menempatkan tekanan utama pada learning (pembelajaran). Skinner melihat bahwa perilaku ditentukan terutama oleh konsekuensi-konsekuensi yang terjadi. Apabila dihargai, maka suatu kebiasaan perilaku akan selalu muncul sebaliknya apabila tertekan oleh hukuman suatu perilaku tidak akan kembali.
Dua teori inilah yang akan secara khusus dipakai dalam memahami kepribadian sebagai sarana untuk lebih mengenalinya baik proses pembentukannya maupun perkembangannya dan bagaimana kita mengendalikan perubahan yang memungkinkan kearah yang lebih baik.
Bagaimana psikoanalis menerangkan kepribadian.
Kepribadian muncul melalui aktivitas, tingkah laku, perbuatan dan ekspresi. Pada awalnya, Sigmund Freud (1856 - 1939 ) menyatakan bahwa kehidupan psikis manusia dipengaruhi oleh dua sistem yaitu sistem sadar-pra sadar dan sistem tak sadar. Sehingga oleh Freud jiwa manusia digambarkan seperti gunung es, dimana hal-hal yang nampak hanyalah 10 persen saja, berupa alam sadar, sedangkan 90 persen yang tidak nampak adalah alam bawah sadar. Sehingga alam bawah sadar merupakan sumber energi psikis yang lebih besar yang potensi menimbulkan konflik batin.
Dalam perkembangan pemikiran selanjutnya Freud tidak lagi membagi hidup psikis seseorang menjadi dua tetapi tiga sistem yaitu Id, Ego dan Superego. Sistem Id merupakan sumber energi psikis yang berasal dari instink-instink biologis manusia yang merupakan naluri bawaan, antara lain instink seksual, instink agresivitas, juga keinginan-keinginan terpendam lainnya. Menurut teori Freud, hidup psikis bayi sebelum dan baru dilahirkan hanya memiliki Id saja, sehingga Id merupakan dasar dan sumber pembentukan hidup psikis manusia selanjutnya. Id mewakili segi-segi kehidupan instinktual, primitif dan irasional yang sering muncul menjadi 'menara' dari dorongan-dorongan yang tidak disadari. Secara mudah Id dapat kita amati dalam aktivitas anak-anak pada awal tahap kehidupannya.
Sedangkan yang dimaksudkan pengertian Ego dalam hal ini bukanlah pengertian ego dalam psikologi yang berarti "Aku", tetapi Freud memahaminya sebagai bentukan deferensiasi dari Id karena kontaknya dengan dunia luar. Aktivitas ego bersifat sadar, pra-sadar dan tidak sadar. Aktivitas sadar, misalnya terlihat dalam proses-proses intelektual, persepsi lahiriah dan persepsi batiniah. Aktivitas tak sadar dilakukan pada mekanisme-mekanisme pertahanan, dan aktivitas pra-sadar terlihat pada fungsi ingatan.
Sistem Ego memiliki ciri khas bahwa ia seluruhnya dikuasai oleh realitas. Tugas yang diembannya adalah mempertahankan kepribadiannya yang telah dimiliki dan mengadakan penyesuaian dengan lingkungan, serta perperan menyelesaikan konflik-konflik dengan realitas dan konflik-konflik yang tidak cocok satu sama lain. Ego juga mengontrol apa yang akan muncul dalam kesadaran dan apa yang akan dikerjakan. Sehingga Ego-lah yang bertanggungjawab menjamin keutuhan kepribadian.
Secara umum Ego bertanggungjawab merencanakan, memecahkan masalah, dan menciptakan teknik-teknik untuk menguasai realitas disekitarnya, karena Ego diperlengkapi dengan kemampuan mengendalikan impuls-impuls manusia dari ekspresi hiperaktif dan dorongan agresivitas. Sehingga Egolah yang harus mengendalikan Id untuk menjamin kelancaran interaksi individu dengan realitas atau dunia sekitarnya.
Sedangkan sistem yang ketiga, Superego menurut Freud dibentuk dengan jalan internalisasi, sehingga setiap orang akan membentuk Superego. Sebagai contoh sederhana, pada awalnya seorang anak menerima perintah dan larangan dari orang tuanya pada suatu hal. Pada awalnya anak ini hanya menuruti dan memperhatikan larangan dan perintahnya saja, dengan akibat memperoleh penghargaan atau hukuman.
Ketaatannya ditentukan oleh ada tidaknya pengawasan, tetapi kemudian terjadi proses internalisasi, yaitu ketika ketaatan itu muncul dari dirinya sendiri tanpa kehadiran sipapun disekitarnya. Saat itulah muncul 'orang tua batin' pada diri anak yang akan terus-menerus mengawasinya. 'Orang tua batin' ini akan selalu ada dalam dirinya dan akan menghukum maupun memuji dirinya terhadap suatu tindakan yang dilakukan. Freud menemukan bahwa Superego adalah merupakan sumber berbagai gangguan kejiwaan.
Dalam proses perkembangan seorang manusia maka konflik akan selalu terjadi antara Id dan Superego, sedangkan Ego selalu berada diantaranya. Ketiga Ego secara spontan didorong Id memenuhi keinginan-keinginannya, maka superego akan menegur apabila pemenuhan dorongan itu tidak tepat, bahkan akan menuduh setiap dorongan yang arahnya kurang tepat. Ego yang akan menerima siksaan dari Superego terhadap suatu dorongan dari Id yang tidak baik dan apabila kekuatan Superego lebih besar, Ego bukan saja tidak melakukannya tetapi akan menutup dan menggesernya serta menyembunyikan dorongan tadi. Konflik akan selalu muncul dari intink-instink yang tidak terekendali dari Id dengan larangan-larangan moralis dari Superego.
Apabila Superego dominan maka seseorang akan mengembangkan sikap bersalah, penuh dosa yang akan nampak dalam perilakunya yang moralis, alim dan saleh. Sehingga segala sesuatunya diukur dengan hukum-hukum moralitas, sehingga akan terus berkembang rasa berdosa atau bersalah pada dirinya. Sedangkan dominasi Id akan membentuk seseorang menjadi narsistis, egois, individualistis yang hanya akan mementingkan dirinya tanpa melihat kepentingan orang lain.
Dalam keadaan Id superior dengan Ego dan Superego lemah, maka dorongan-dorongan instink biologis itu tidak terkendali akan membentuk orang menjadi seseorang yang egosentris dan selalu memaksakan kehendak atau keinginannya sendiri. Sikapnya menjadi sewenang-wenang, yang diketahuinya hanyalah bagaimana mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dengan tidak segan-segan merugikan orang lain. Sikap anti-sosial ini juga disebabkan ketiadaan nilai-nilai moral dalam memenuhi keinginannya untuk memperoleh kesenangan-kesenangan pribadi.
Ego akan berhadapan dengan kecondongan-kecondongan spontan dari lapisan Id dan dari tuntutan-tuntutan Superego. Ego harus mengambil sikap, dan apabila seseorang memiliki Ego lemah, ia akan memenuhi setiap keinginan-keinginan spontan.
Baca Selengkapnya..
BERDAMAI DENGAN MASA LAMPAU TANPA MELUPAKANNYA
"Sepuluh tahun kami membenci masa lampau kami. Itu sudah cukup. Karena itu kami memberikan pengampunan, namun proses hukum terus berjalan. Energi kami yang terkuras untuk masa lalu kami salurkan untuk masa depan" (Fidel Ramos, Manila November 1995)
Ketika Presiden Ferdinand Marcos digulingkan oleh kekuatan rakyat, atau yang dikenal dengan "People Power", banyak waktu dan tenaga yang dicurahkan sia-sia untuk melampiaskan kebencian dan dendam kepadanya. Pemerintahan Corazon Aquino berkali-kali menghadapi ancaman kudeta, namun pendukung demokrasi bahu-membahu berada di belakangnya. Enam tahun baginya cukup untuk meletakkan fondasi demokrasi.
Tiga Presiden telah dimiliki bangsa ini sejak Presiden Soeharto lengser dari keprabonnya. Banyak waktu dan tenaga yang terkuras untuk memusuhi dan membenci rezim Soeharto. Sama halnya di Filipina, kekayaan Marcos yang diduga sebagai hasil korupsi, tidak terusut, begitu juga dengan Soeharto. Upaya Habibie, Gus Dur untuk menarik kembali - kalau tidak bisa seluruhnya, ya sebagian - kekayaan Soeharto dan kroni-kroninya, tidak berhasil. Terlepas apakah upaya itu sungguh-sungguh atau setengah hati.
Presiden Megawati bertekad memberantas KKN. Tekad ini hanya akan menjadi tekad, jika tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh. Demikian terungkap dalam pemandangan umum fraksi-fraksi pada Rapat Paripurna Sidang Tahunan MPR (2 November 2001). Harapan kepada Presiden Megawati sangat besar.
Sangat menarik menyimak usul Fraksi Kesatuan Kebangsaan Indonesia yang dibacakan oleh Sutradara Gintings. Menurut Gintings, FKKI percaya Presiden tidak akan mau terjebak dalam dilema antara memelihara koalisi politik dengan pemberantasan korupsi. Dilema seperti itu harus ditepis, karena FKKI percaya, rekan koalisi Presiden akan tetap memberi dukungan bila ada tindakan tegas dan lugas terhadap pelaku korupsi.
Menyangkut pemulihan ekonomi, FKKI mengajak agar kita memberikan energi yang lebih besar ke masa depan, dibanding energi yang dipakai untuk melampiaskan kemarahan dan dendam terhadap masa lampau. Sehubungan dengan itu, Gintings mengajak untuk berdamai dengan masa lampau tanpa melupakannya. Berdamai dengan masa lampau bukan berarti sama sekali tidak ada proses hukum.
Lebih jauh, Ginting menggagas, kasus-kasus korupsi besar yang menyakiti hati dan merobek rasa keadilan masyarakat perlu diselesaikan di pengadilan, termasuk pelanggaran HAM berat. Yang lainnya diselesaikan dengan Komisi Rekonsiliasi dan Kebenaran, serta instrumen lain seperti "tax amnesty". Menurut Gintings, langkah ini perlu diambil untuk kepentingan pengembalian sebagian harta atau kekayaan keuangan yang diselewengkan maupun untuk memulai suatu suasana harmoni baru.
Benar, energi kita telah terbuang dan terbelenggu ke masa lampau. Mungkin pula dipertimbangkan, agar Presiden Megawati memberikan pengampunan kepada penguasa masa lampau yang melakukan praktik-praktik KKN dan tetap memberi jalan kepada penyelesaian secara hukum. Dalam situasi bangsa kita yang tengah kelimpungan, masyarakat yang labil dan gampang dihasut untuk melakukan tindakan-tindakan destruktif, energi kita akan terkuras oleh masalah-masalah masa lampau, sehingga bergerak ke depan akan sangat sulit. Integritas kita sebagai bangsa yang layak dipercaya akan ambruk.
Pemberian pengampunan perlu pula disertai dengan pemberian sanksi yang sangat berat kepada pelaku KKN baru, yang menurut Gintings, pelaku korupsi yang "dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya mencapai perolehan orang-orang lain/pelaku korupsi lama selama tigapuluhan tahun."
Ketika penulis dan beberapa rekan dari kawasan Asia-Pasifik diterima Presiden Fidel Ramos pada bulan November 1995, Fidel Ramos mengatakan, siapapun Presiden Filipina di masa datang, akan berhadapan dengan kekuatan rakyat, jika dia melakukan hal-hal yang menyimpang dari tujuan reformasi people power. Pengalaman Filipina dalam melakukan rekonsiliasi - mengampuni masa lalu dan tetap membiarkan proses hukum - patut kita laksanakan di Indonesia. Melihat ke belakang kita hanya perlukan untuk melakukan introspeksi dalam melangkah ke depan."*** (edgar)
Baca Selengkapnya..
Ketika Presiden Ferdinand Marcos digulingkan oleh kekuatan rakyat, atau yang dikenal dengan "People Power", banyak waktu dan tenaga yang dicurahkan sia-sia untuk melampiaskan kebencian dan dendam kepadanya. Pemerintahan Corazon Aquino berkali-kali menghadapi ancaman kudeta, namun pendukung demokrasi bahu-membahu berada di belakangnya. Enam tahun baginya cukup untuk meletakkan fondasi demokrasi.
Tiga Presiden telah dimiliki bangsa ini sejak Presiden Soeharto lengser dari keprabonnya. Banyak waktu dan tenaga yang terkuras untuk memusuhi dan membenci rezim Soeharto. Sama halnya di Filipina, kekayaan Marcos yang diduga sebagai hasil korupsi, tidak terusut, begitu juga dengan Soeharto. Upaya Habibie, Gus Dur untuk menarik kembali - kalau tidak bisa seluruhnya, ya sebagian - kekayaan Soeharto dan kroni-kroninya, tidak berhasil. Terlepas apakah upaya itu sungguh-sungguh atau setengah hati.
Presiden Megawati bertekad memberantas KKN. Tekad ini hanya akan menjadi tekad, jika tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh. Demikian terungkap dalam pemandangan umum fraksi-fraksi pada Rapat Paripurna Sidang Tahunan MPR (2 November 2001). Harapan kepada Presiden Megawati sangat besar.
Sangat menarik menyimak usul Fraksi Kesatuan Kebangsaan Indonesia yang dibacakan oleh Sutradara Gintings. Menurut Gintings, FKKI percaya Presiden tidak akan mau terjebak dalam dilema antara memelihara koalisi politik dengan pemberantasan korupsi. Dilema seperti itu harus ditepis, karena FKKI percaya, rekan koalisi Presiden akan tetap memberi dukungan bila ada tindakan tegas dan lugas terhadap pelaku korupsi.
Menyangkut pemulihan ekonomi, FKKI mengajak agar kita memberikan energi yang lebih besar ke masa depan, dibanding energi yang dipakai untuk melampiaskan kemarahan dan dendam terhadap masa lampau. Sehubungan dengan itu, Gintings mengajak untuk berdamai dengan masa lampau tanpa melupakannya. Berdamai dengan masa lampau bukan berarti sama sekali tidak ada proses hukum.
Lebih jauh, Ginting menggagas, kasus-kasus korupsi besar yang menyakiti hati dan merobek rasa keadilan masyarakat perlu diselesaikan di pengadilan, termasuk pelanggaran HAM berat. Yang lainnya diselesaikan dengan Komisi Rekonsiliasi dan Kebenaran, serta instrumen lain seperti "tax amnesty". Menurut Gintings, langkah ini perlu diambil untuk kepentingan pengembalian sebagian harta atau kekayaan keuangan yang diselewengkan maupun untuk memulai suatu suasana harmoni baru.
Benar, energi kita telah terbuang dan terbelenggu ke masa lampau. Mungkin pula dipertimbangkan, agar Presiden Megawati memberikan pengampunan kepada penguasa masa lampau yang melakukan praktik-praktik KKN dan tetap memberi jalan kepada penyelesaian secara hukum. Dalam situasi bangsa kita yang tengah kelimpungan, masyarakat yang labil dan gampang dihasut untuk melakukan tindakan-tindakan destruktif, energi kita akan terkuras oleh masalah-masalah masa lampau, sehingga bergerak ke depan akan sangat sulit. Integritas kita sebagai bangsa yang layak dipercaya akan ambruk.
Pemberian pengampunan perlu pula disertai dengan pemberian sanksi yang sangat berat kepada pelaku KKN baru, yang menurut Gintings, pelaku korupsi yang "dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya mencapai perolehan orang-orang lain/pelaku korupsi lama selama tigapuluhan tahun."
Ketika penulis dan beberapa rekan dari kawasan Asia-Pasifik diterima Presiden Fidel Ramos pada bulan November 1995, Fidel Ramos mengatakan, siapapun Presiden Filipina di masa datang, akan berhadapan dengan kekuatan rakyat, jika dia melakukan hal-hal yang menyimpang dari tujuan reformasi people power. Pengalaman Filipina dalam melakukan rekonsiliasi - mengampuni masa lalu dan tetap membiarkan proses hukum - patut kita laksanakan di Indonesia. Melihat ke belakang kita hanya perlukan untuk melakukan introspeksi dalam melangkah ke depan."*** (edgar)
Baca Selengkapnya..
Belajar Kapan Saja di Kampus Maya
Pepatah belajar di mana saja dan kapan saja tampaknya benar-benar menjadi kenyataan sekarang. Untuk belajar pun kini tak perlu repot-repot datang ke kampus untuk berinteraksi dengan dosen atau teman lainnya. Anda cukup duduk di depan komputer yang terhubung dengan jaringan internet. Dari situ anda sudah cukup bisa berbangga diri menjadi seorang mahasiswa. Anda pun tak perlu ikut unjuk rasa jika merasa tak cocok dengan pelajaran yang diberikan.
Sejak maraknya teknologi informasi seperti internet, belajar pun dilakukan dari depan layar monitor. Banyak lembaga dan perguruan tinggi, terutama di luar negeri, yang menawarkan program belajar jarak jauh (long distance learning). Beragam ilmu pengetahuan ditawarkan untuk menarik minat peserta. Belajar dengan cara seperti ini tentu si mahasiswa tak perlu memasuki ruang kelas. Cukup duduk manis di depan internet, baik di rumah maupun di kantor.
Salah satu lembaga yang menawarkan belajar jarak jauh ini adalah The Cornel Cooperative Extension Satellite Network (CCESN), yang membuka program belajar jarak jauh sejak 1996. Pusat kendali peralatan telekomunikasi "kampus maya" ini berpusat di Ithaca, Amerika Serikat, dengan 46 "kampus maya" yang dimilikinya. Satu kampus hadir di Jenewa, yang sengaja dijinkan oleh CCESN untuk membuka program belajar mereka.
Tak hanya CCESN yang menawarkan program serupa. PurpleTrain.com pun menawarkan program belajarnya yang mereka sebut e-learning. PurpleTrain.com merupakan provider yang menawarkan one-stop service pada bidang bisnis dan pendidikan teknologi informasi.
PurpleTrain.com membidik kelas menengah secara individual maupun kelompok, serta karyawan perusahaan, untuk menjadi mahasiswanya. "Kami menghadirkan nilai yang tinggi dalam kualitas dan solusi pendidikan online," kata Jolyn Chua, manajer pemasaran dan public relations lembaga yang bermarkas di Singapura ini. Tak kurang dari 300 buah kursus secara online, yang meliputi pendidikan setara diploma dalam bidang bisnis dan program teknologi informasi, disediakan.
Kampus maya dari Singapura ini 100 persen dimiliki oleh Informatics Holdings Limited sebagai penyelenggara pelatihan serta dan pendidikan terbesar yang terdaftar di bursa saham Singapura. "Hingga kini pemakai kami mencapai 40 ribu orang," kata Jolyn. Fasilitas terbaru yang diberikan PurpleTrain.com berupa fasiltas chatting dan diskusi langsung antaranggota. Layanan ini sebagai bentuk pembaharuan yang akan dicanangkan pada 30 Mei 2001 mendatang. Perusahaan pemilik PurpleTrain.com ini berdiri sejak 1983. Kini lembaga pendiikannya telah berkembang di 245 pusat pendidikan yang tersebar di 27 negara di belahan dunia.
Perbaikan layanan berupa fasilitas berlajar, materi pelajaran, dan layanan bimbingan lainnya menjadi salah satu daya tarik yang ditawarkan. Direktur Cornel Cooperative Extension Gary Goff membenarkan pemberian layanan itu sebagai nilai jual mereka. "Dengan daya jangkau kita yang luas pemberian layanan terbaik bagi peserta adalah sesuatu yang wajar," kata Gary.
CCESN juga menggunakan satellite videoconferencing yang dapat diakses secara bersama pada beberapa saluran yang telah terdaftar dalam lembaga mereka. Cara itu diyakini Gary bisa menekan ongkos lebih murah tanpa mengurangi kualitas pendidikan mereka. "Dengan begitu standart yang kita tetapkan sama pada semua mahasiswa," katanya. Untuk mengatasi kesulitan mahasiswa lembaga ini juga menyediakan layanan konseling pendidikan.
Untuk memperluas jaringan dan meningkatkan kualitas yang dimiliki, PurpelTrain.com menjalin kerjasama dengan beberapa perguruan tinggi lainnya. Andrews University (AS), Curtin University of Technology (Australia), Ottawa University (AS), Oxford Brooks University (Inggris), Thames Valley University (Inggris), dan University of London merupakan mitra PurpleTrain.com mengembangkan dirinya.
Belajar melalui internet tampaknya memberikan kemudahan dan fleksibilitas bagi mahasiswa. Seperti yang ditawarkan oleh Global University Alliance dalam Gua.com. Mahasiswa diberi jadwal pelajaran yang sesuai dengan kesukaaan dan waktu yang mereka miliki. Dengan begitu mahasiswa yang sibuk pun bisa mengatur sendiri jadwal belajarnya. Tak aneh mahasiswa bisa belajar lebih cepat karena tidak terikat dengan jadwal seperti dalam kampus non-maya. (arif firmansyah)
©PDAT 2000
Baca Selengkapnya..
Sejak maraknya teknologi informasi seperti internet, belajar pun dilakukan dari depan layar monitor. Banyak lembaga dan perguruan tinggi, terutama di luar negeri, yang menawarkan program belajar jarak jauh (long distance learning). Beragam ilmu pengetahuan ditawarkan untuk menarik minat peserta. Belajar dengan cara seperti ini tentu si mahasiswa tak perlu memasuki ruang kelas. Cukup duduk manis di depan internet, baik di rumah maupun di kantor.
Salah satu lembaga yang menawarkan belajar jarak jauh ini adalah The Cornel Cooperative Extension Satellite Network (CCESN), yang membuka program belajar jarak jauh sejak 1996. Pusat kendali peralatan telekomunikasi "kampus maya" ini berpusat di Ithaca, Amerika Serikat, dengan 46 "kampus maya" yang dimilikinya. Satu kampus hadir di Jenewa, yang sengaja dijinkan oleh CCESN untuk membuka program belajar mereka.
Tak hanya CCESN yang menawarkan program serupa. PurpleTrain.com pun menawarkan program belajarnya yang mereka sebut e-learning. PurpleTrain.com merupakan provider yang menawarkan one-stop service pada bidang bisnis dan pendidikan teknologi informasi.
PurpleTrain.com membidik kelas menengah secara individual maupun kelompok, serta karyawan perusahaan, untuk menjadi mahasiswanya. "Kami menghadirkan nilai yang tinggi dalam kualitas dan solusi pendidikan online," kata Jolyn Chua, manajer pemasaran dan public relations lembaga yang bermarkas di Singapura ini. Tak kurang dari 300 buah kursus secara online, yang meliputi pendidikan setara diploma dalam bidang bisnis dan program teknologi informasi, disediakan.
Kampus maya dari Singapura ini 100 persen dimiliki oleh Informatics Holdings Limited sebagai penyelenggara pelatihan serta dan pendidikan terbesar yang terdaftar di bursa saham Singapura. "Hingga kini pemakai kami mencapai 40 ribu orang," kata Jolyn. Fasilitas terbaru yang diberikan PurpleTrain.com berupa fasiltas chatting dan diskusi langsung antaranggota. Layanan ini sebagai bentuk pembaharuan yang akan dicanangkan pada 30 Mei 2001 mendatang. Perusahaan pemilik PurpleTrain.com ini berdiri sejak 1983. Kini lembaga pendiikannya telah berkembang di 245 pusat pendidikan yang tersebar di 27 negara di belahan dunia.
Perbaikan layanan berupa fasilitas berlajar, materi pelajaran, dan layanan bimbingan lainnya menjadi salah satu daya tarik yang ditawarkan. Direktur Cornel Cooperative Extension Gary Goff membenarkan pemberian layanan itu sebagai nilai jual mereka. "Dengan daya jangkau kita yang luas pemberian layanan terbaik bagi peserta adalah sesuatu yang wajar," kata Gary.
CCESN juga menggunakan satellite videoconferencing yang dapat diakses secara bersama pada beberapa saluran yang telah terdaftar dalam lembaga mereka. Cara itu diyakini Gary bisa menekan ongkos lebih murah tanpa mengurangi kualitas pendidikan mereka. "Dengan begitu standart yang kita tetapkan sama pada semua mahasiswa," katanya. Untuk mengatasi kesulitan mahasiswa lembaga ini juga menyediakan layanan konseling pendidikan.
Untuk memperluas jaringan dan meningkatkan kualitas yang dimiliki, PurpelTrain.com menjalin kerjasama dengan beberapa perguruan tinggi lainnya. Andrews University (AS), Curtin University of Technology (Australia), Ottawa University (AS), Oxford Brooks University (Inggris), Thames Valley University (Inggris), dan University of London merupakan mitra PurpleTrain.com mengembangkan dirinya.
Belajar melalui internet tampaknya memberikan kemudahan dan fleksibilitas bagi mahasiswa. Seperti yang ditawarkan oleh Global University Alliance dalam Gua.com. Mahasiswa diberi jadwal pelajaran yang sesuai dengan kesukaaan dan waktu yang mereka miliki. Dengan begitu mahasiswa yang sibuk pun bisa mengatur sendiri jadwal belajarnya. Tak aneh mahasiswa bisa belajar lebih cepat karena tidak terikat dengan jadwal seperti dalam kampus non-maya. (arif firmansyah)
©PDAT 2000
Baca Selengkapnya..
Subscribe to:
Posts (Atom)

